Lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto masih kosong meski proyeknya bernilai Rp1,5 miliar. Simak kondisi, tujuan pembangunan, dan persoalannya.
Lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto kembali menjadi perhatian setelah sekitar 40 unit yang berada di kawasan Jalan Bung Karno dilaporkan masih kosong dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Puluhan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tersebut merupakan fasilitas yang dibangun sebagai bagian dari penataan pedagang di sekitar kawasan Menara Pandang Teratai. Berdasarkan laporan terbaru, bangunan tersebut telah selesai sejak akhir 2024, tetapi hingga September 2026 belum berfungsi sebagaimana tujuan awalnya sebagai sentra kuliner.
Proyek lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tercatat memiliki nilai sekitar Rp1,5 miliar. Kondisi ini kemudian menjadi sorotan karena fasilitas yang telah dibangun dengan anggaran tersebut belum menunjukkan aktivitas perdagangan seperti yang diharapkan.
Kondisi Lapak Kuliner Menara Teratai Purwokerto
Berdasarkan pantauan pada Kamis, 24 September 2026, sekitar 40 lapak yang berada di sisi timur trotoar Jalan Bung Karno terlihat belum digunakan sebagai tempat usaha.
Masing-masing lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto memiliki ukuran sekitar 214 x 266 sentimeter. Sejumlah bagian bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk pintu besi. Area dapur mini di dalam beberapa lapak juga terlihat berdebu, sementara masih terdapat sejumlah barang yang diduga merupakan sisa perlengkapan pedagang.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa fasilitas yang sudah selesai dibangun belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, kawasan Menara Pandang Teratai merupakan salah satu kawasan yang dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi wisata di Purwokerto. Keberadaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto pada awalnya diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi sekaligus membantu penataan pedagang di sekitar kawasan tersebut.
Proyek Lapak Kuliner Menara Teratai Bernilai Rp1,5 Miliar
Pembangunan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tercantum dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyumas dengan nilai sekitar Rp1,5 miliar.
Proyek tersebut mulai diproses pada September 2024 dan fasilitasnya disebut rampung pada akhir tahun yang sama. Puluhan lapak tersebut kemudian disiapkan sebagai fasilitas untuk mendukung penataan pedagang di kawasan Menara Teratai.
Dengan nilai proyek yang cukup besar, keberadaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tentu diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fisik. Fasilitas tersebut seharusnya dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi pedagang maupun masyarakat yang berkunjung ke kawasan Menara Teratai.
Namun, kondisi terbaru menunjukkan bahwa fungsi tersebut belum berjalan secara optimal.
Lapak Kuliner Menara Teratai Awalnya untuk Relokasi PKL
Rencana pembangunan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tidak dapat dipisahkan dari penataan pedagang kaki lima atau PKL di kawasan Jalan Bung Karno.
Pada April 2025, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan lokasi relokasi bagi PKL di sekitar Menara Pandang Teratai. Saat itu, disebutkan telah dibangun 40 lapak di lima titik sebagai bagian dari rencana penataan pedagang.
Penyediaan lokasi relokasi tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga fungsi trotoar agar tetap dapat digunakan oleh pejalan kaki.
Pemerintah juga mempertimbangkan agar penataan PKL tidak membuat kawasan wisata menjadi kurang nyaman bagi pengunjung. Dalam keterangan pada April 2025, Sadewo menyebut penataan perlu dilakukan secara kondusif dan tidak sekadar memindahkan pedagang dari satu titik ke titik lainnya.
Artinya, keberadaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto sejak awal memang berkaitan dengan upaya mencari lokasi berjualan yang lebih tertata.
Mengapa Lapak Kuliner Menara Teratai Masih Kosong?
Persoalan utama yang muncul bukan hanya mengenai keberadaan bangunan, tetapi juga bagaimana fasilitas tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.
Laporan terbaru menyebut sejumlah pedagang menilai lokasi lapak kurang strategis untuk kegiatan berjualan. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan karena pedagang membutuhkan lokasi yang dapat mendukung keberlangsungan usaha.
Dalam kasus lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto, pembangunan fasilitas secara fisik ternyata belum cukup untuk memastikan pedagang dapat menjalankan usaha di dalamnya.
Lokasi, akses pengunjung, visibilitas lapak, kenyamanan pembeli, serta sistem pengelolaan dapat menjadi bagian penting dalam keberhasilan sebuah sentra kuliner.
Jika lokasi usaha tidak mudah terlihat atau tidak memiliki arus pengunjung yang sesuai dengan kebutuhan pedagang, fasilitas yang tersedia berpotensi tidak digunakan secara maksimal.
Baca Juga: Thera Art Space Purwokerto, 5 Aktivitas Seni untuk Isi WeekendÂ
Pengelolaan Lapak Kuliner Menara Teratai Jadi Perhatian
Selain persoalan lokasi, pengelolaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto juga menjadi hal yang perlu mendapat kejelasan.
Dalam laporan 24 September 2026, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Banyumas Gatot Purwadi menyebut fasilitas tersebut merupakan aset Dinas Pekerjaan Umum Banyumas. Sementara itu, pihak DPU yang dikonfirmasi mengenai status pemanfaatan dan rencana pengoperasian lapak belum memberikan penjelasan hingga laporan tersebut diterbitkan.
Kondisi tersebut membuat masa depan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto masih belum jelas.
Pertanyaan yang muncul bukan hanya kapan lapak akan digunakan, tetapi juga bagaimana mekanisme pemanfaatannya, siapa yang akan mengelola, serta bagaimana memastikan pedagang dan pengunjung sama-sama mendapatkan manfaat dari fasilitas tersebut.
Penataan PKL dan Masa Depan Lapak Kuliner Menara Teratai
Penataan PKL di kawasan Menara Teratai sebenarnya sudah menjadi perhatian pemerintah sejak sebelum pembangunan lapak selesai.
Pada April 2025, pemerintah menyampaikan bahwa keberadaan PKL di trotoar perlu ditata karena trotoar merupakan fasilitas umum bagi pejalan kaki. Pemerintah juga telah menyiapkan lokasi relokasi agar penataan tidak hanya berupa penertiban, tetapi tetap memberikan tempat bagi pedagang untuk berusaha.
Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto memiliki dua fungsi sekaligus.
Pertama, fasilitas tersebut diharapkan membantu penataan ruang publik. Kedua, lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto diharapkan dapat menjadi tempat usaha yang mendukung ekonomi pedagang.
Dua tujuan tersebut perlu berjalan bersamaan agar pembangunan fasilitas tidak berhenti pada penyediaan bangunan saja.
Bukan Hanya Soal Lapak Kosong
Kondisi sekitar 40 lapak yang belum digunakan menjadi persoalan yang lebih luas daripada sekadar bangunan kosong.
Di satu sisi, pemerintah membutuhkan ruang yang tertata agar aktivitas perdagangan tidak mengganggu fungsi trotoar. Di sisi lain, pedagang membutuhkan tempat usaha yang mampu mendatangkan pembeli dan memberikan peluang bagi usaha mereka untuk bertahan.
Karena itu, keberhasilan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tidak hanya dapat diukur dari apakah bangunannya sudah selesai.
Fasilitas tersebut baru dapat dikatakan berjalan sesuai tujuan apabila lapak benar-benar digunakan, pedagang dapat berjualan dengan nyaman, pengunjung dapat mengaksesnya dengan mudah, dan kawasan tetap tertata.
Konsep penataan PKL di Menara Teratai sebelumnya juga pernah didorong sebagai bagian dari upaya menggabungkan aktivitas wisata, ruang publik, dan ekonomi masyarakat.
Harapan untuk Lapak Kuliner Menara Teratai Purwokerto
Keberadaan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto yang belum dimanfaatkan secara optimal tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pihak terkait.
Dengan pembangunan yang telah menghabiskan sekitar Rp1,5 miliar, masyarakat tentu berharap fasilitas tersebut dapat digunakan sesuai tujuan awalnya.
Pengoperasian lapak nantinya juga membutuhkan konsep yang jelas. Tidak cukup hanya menyediakan bangunan, tetapi perlu dipastikan bagaimana pedagang dapat memperoleh akses terhadap lokasi, bagaimana pengelolaannya, serta bagaimana kawasan tersebut dapat menarik pengunjung.
Jika seluruh aspek tersebut dapat disiapkan, lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto berpotensi kembali menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di kawasan Menara Pandang Teratai.
Sebaliknya, jika tidak ada pengelolaan yang jelas, puluhan lapak yang sudah dibangun berisiko tetap tidak memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Baca Juga: Lowongan Kerja Purwokerto September 2026, Ini 10 Posisi Terbaru
FAQ
Berapa jumlah lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto?
Terdapat sekitar 40 lapak yang dibangun di kawasan Jalan Bung Karno sebagai bagian dari fasilitas penataan pedagang di sekitar Menara Pandang Teratai.
Berapa nilai pembangunan lapak kuliner Menara Teratai?
Nilai proyek lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto tercatat sekitar Rp1,5 miliar dalam Rencana Umum Pengadaan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyumas.
Kapan lapak kuliner Menara Teratai selesai dibangun?
Fasilitas tersebut dilaporkan selesai pada akhir 2024.
Apa tujuan pembangunan lapak kuliner Menara Teratai?
Fasilitas tersebut disiapkan sebagai bagian dari penataan dan relokasi PKL di sekitar kawasan Menara Pandang Teratai dan Jalan Bung Karno.
Mengapa lapak kuliner Menara Teratai masih kosong?
Laporan terbaru menyebut adanya persoalan terkait lokasi yang dinilai kurang strategis oleh sejumlah pedagang. Selain itu, mekanisme pemanfaatan dan pengelolaan fasilitas juga masih membutuhkan kejelasan.
Apakah lapak tersebut akan kembali digunakan?
Belum ada kepastian mengenai waktu pengoperasian kembali yang dapat dipastikan dari laporan terbaru. Status pemanfaatan dan rencana pengoperasian masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
Lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto yang dibangun dengan nilai sekitar Rp1,5 miliar masih menghadapi persoalan pemanfaatan. Sekitar 40 lapak yang selesai dibangun sejak akhir 2024 dilaporkan belum berfungsi optimal sebagai sentra kuliner.
Persoalan tersebut berkaitan dengan lokasi, keberlanjutan usaha pedagang, serta kejelasan pengelolaan fasilitas. Padahal, sejak awal pembangunan lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto ditujukan untuk membantu penataan PKL sekaligus menyediakan ruang usaha yang lebih tertata.
Ke depan, kejelasan pengelolaan menjadi salah satu hal penting agar fasilitas tersebut tidak hanya menjadi bangunan kosong. Jika dapat dimanfaatkan dengan konsep yang tepat, lapak kuliner Menara Teratai Purwokerto masih memiliki peluang untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan melengkapi kawasan Menara Pandang Teratai sebagai ruang publik di Purwokerto.






