PURWOKERTO – Semangat mahasiswa dalam menghadirkan inovasi teknologi untuk menjawab permasalahan masyarakat kembali ditunjukkan oleh sivitas akademika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto. Pada Jumat, 30 Oktober 2026, tim inovator mahasiswa UBSI Purwokerto mengikuti tahapan presentasi dan simulasi karya dalam ajang Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Banyumas 2026.
Krenova Banyumas 2026
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB tersebut bertempat di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banyumas. Dalam kesempatan ini, mahasiswa UBSI Purwokerto mempresentasikan dua karya inovasi digital yang dirancang untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan nyata di masyarakat, khususnya pada sektor pendidikan dan pertanian.
Keikutsertaan delegasi UBSI Purwokerto dipimpin oleh Sarah Amalia, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi (S1), dengan pendampingan dan bimbingan dosen Ragil Wijianto, S.Kom., M.Kom. Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Hadirkan Dua Inovasi Digital untuk Pendidikan dan Pertanian
Dalam ajang Krenova Kabupaten Banyumas 2026, tim mahasiswa UBSI Purwokerto membawa dua karya inovasi unggulan yang memiliki fokus penyelesaian masalah berbeda, tetapi sama-sama memanfaatkan teknologi informasi sebagai solusi.
Inovasi pertama adalah SASJ (Sistem Absensi Siswa dan Jurnal), yang dikembangkan oleh Oki Sebriyan bersama tim. Aplikasi ini dirancang untuk membantu digitalisasi administrasi kehadiran siswa sekaligus pencatatan jurnal mengajar. Melalui sistem tersebut, proses administrasi sekolah diharapkan menjadi lebih efisien, terorganisasi, dan mudah dikelola.
Sementara itu, inovasi kedua adalah SIPUK (Sistem Informasi & Pengawasan Distribusi Pupuk Subsidi Banyumas Raya). Sistem ini dikembangkan sebagai solusi untuk menjawab persoalan transparansi dan pengawasan distribusi pupuk bersubsidi. Kehadiran SIPUK diharapkan dapat membantu mendorong penyaluran pupuk subsidi agar lebih terpantau, transparan, dan tepat sasaran sehingga dapat memberikan manfaat bagi para petani.
Kedua inovasi tersebut menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekaligus membantu meningkatkan efektivitas pelayanan di sektor pendidikan dan pertanian.
Presentasi dan Simulasi di Hadapan Dewan Juri Krenova
Pada tahapan presentasi, Sarah Amalia bersama tim memaparkan latar belakang pengembangan inovasi, permasalahan yang ingin diselesaikan, mekanisme kerja aplikasi, hingga keunggulan masing-masing sistem. Tidak hanya menyampaikan konsep, tim juga melakukan simulasi secara langsung untuk memperlihatkan cara kerja aplikasi SASJ dan SIPUK kepada dewan juri.
Pemaparan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya sebatas gagasan, tetapi telah diwujudkan dalam bentuk sistem digital yang dapat diuji dan dikembangkan lebih lanjut.
Respons positif yang diterima menjadi motivasi tersendiri bagi tim untuk terus menyempurnakan hasil pengembangan. Berbagai masukan dari dewan juri juga menjadi bahan evaluasi agar kedua aplikasi semakin sesuai dengan kebutuhan calon pengguna di lapangan.
Dosen Pembimbing Apresiasi Kreativitas Mahasiswa
Dosen pembimbing tim inovator UBSI Purwokerto, Ragil Wijianto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan kebanggaannya atas kerja keras mahasiswa yang berhasil mengikuti tahapan presentasi dalam ajang Krenova Kabupaten Banyumas 2026.
Menurutnya, keikutsertaan mahasiswa dalam kompetisi inovasi merupakan bentuk nyata penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
“Sebagai dosen pembimbing, saya sangat mengapresiasi kerja keras Sarah, Oki, dan seluruh anggota tim. Inovasi SASJ dan SIPUK ini lahir dari kepekaan mereka melihat masalah di sektor pendidikan dan pertanian Kabupaten Banyumas. Melalui ajang Krenova ini, mahasiswa kami membuktikan bahwa teknologi informasi bukan sekadar deretan kode pemrograman, melainkan alat yang nyata untuk memberikan solusi, transparansi, dan efisiensi bagi masyarakat luas,” jelas Ragil Wijianto saat mendampingi timnya di Gedung Bapperida.
Sarah Amalia Berharap Inovasi Bisa Diimplementasikan
Ketua tim inovator, Sarah Amalia, juga mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya karena mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan hasil karya bersama rekan-rekannya di hadapan dewan juri tingkat Kabupaten Banyumas.
Menurut Sarah, pengalaman mengikuti tahapan presentasi dan simulasi memberikan banyak pelajaran berharga, terutama dalam hal kepemimpinan, kerja sama tim, serta kemampuan menyampaikan gagasan di depan publik.
“Kami sangat bersyukur bisa mempresentasikan SASJ dan SIPUK di hadapan dewan juri hari ini. Saat simulasi tadi, kami mendapat banyak masukan berharga yang akan membuat sistem ini semakin sempurna. Harapan kami, karya yang kami buat tidak hanya berhenti sebagai produk kompetisi, tetapi bisa segera diimplementasikan oleh instansi terkait di Banyumas agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh guru, siswa, dan tentunya para petani,” tutur Sarah dengan penuh optimisme.
Dukungan terhadap kreativitas mahasiswa juga disampaikan oleh Kepala Kampus UBSI Purwokerto, Vadlya Maarif, M.Kom. Ia menegaskan bahwa institusi akan terus memberikan dukungan dan fasilitas bagi mahasiswa yang memiliki gagasan inovatif agar berani berkompetisi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Baca juga : Gen Alpha Tumbuh Bersama Gawai Sejak Lahir, Ini Karakter dan Gaya Komunikasinya
UBSI Dorong Mahasiswa Menjadi Problem Solver
Keikutsertaan dalam Krenova Kabupaten Banyumas 2026 diharapkan menjadi batu loncatan bagi mahasiswa UBSI Purwokerto untuk terus mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui inovasi SASJ dan SIPUK, mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan teknis dalam pengembangan sistem informasi, tetapi juga belajar memahami kebutuhan pengguna serta merancang solusi berdasarkan permasalahan nyata.
Sinergi antara kreativitas mahasiswa, bimbingan dosen, dan dukungan institusi menjadi bagian penting dalam membangun budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi.
Melalui kegiatan ini, UBSI Purwokerto terus mendorong lahirnya generasi problem solver yang tidak hanya cerdas dalam memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya perguruan tinggi dalam mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
FAQ
- Apa itu Krenova Kabupaten Banyumas 2026?
Krenova merupakan ajang Kreativitas dan Inovasi yang menjadi wadah bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk memperkenalkan dan mempresentasikan karya inovatif yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan di daerah.
- Kapan mahasiswa UBSI Purwokerto mengikuti Krenova Banyumas 2026?
Mahasiswa UBSI Purwokerto mengikuti tahapan presentasi dan simulasi karya pada Jumat, 30 Oktober 2026, mulai pukul 09.00 WIB di Gedung Bapperida Kabupaten Banyumas.
- Apa saja inovasi yang dibawa mahasiswa UBSI Purwokerto?
Ada dua inovasi digital, yaitu SASJ (Sistem Absensi Siswa dan Jurnal) untuk membantu administrasi pendidikan serta SIPUK (Sistem Informasi & Pengawasan Distribusi Pupuk Subsidi Banyumas Raya) untuk mendukung transparansi distribusi pupuk subsidi.
- Siapa dosen pembimbing tim inovator UBSI Purwokerto?
Tim inovator mahasiswa UBSI Purwokerto dibimbing oleh Ragil Wijianto, S.Kom., M.Kom.
- Apa manfaat aplikasi SASJ bagi dunia pendidikan?
SASJ dirancang untuk membantu digitalisasi administrasi kehadiran siswa dan pencatatan jurnal mengajar sehingga proses administrasi sekolah dapat berjalan lebih efisien dan terorganisasi.
- Apa tujuan pengembangan aplikasi SIPUK?
SIPUK dikembangkan untuk membantu meningkatkan transparansi dan pengawasan distribusi pupuk bersubsidi di wilayah Banyumas Raya agar penyalurannya lebih terpantau dan tepat sasaran.
- Apa harapan mahasiswa UBSI Purwokerto setelah mengikuti Krenova 2026?
Sarah Amalia dan tim berharap inovasi SASJ dan SIPUK tidak hanya menjadi produk kompetisi, tetapi juga dapat diimplementasikan oleh instansi terkait sehingga manfaatnya dapat dirasakan guru, siswa, dan petani.






