Purwokertohitz.com, – Dapur MBG Banyumas yang telah selesai dibangun masih menunggu kepastian operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut membuat pemilik maupun calon mitra dapur MBG khawatir, terutama di tengah rencana perubahan skema insentif dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Sekitar 30 dapur disebut sudah selesai dibangun dan dilengkapi berbagai peralatan untuk menunjang kegiatan operasional. Setiap dapur diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp3 miliar sehingga total nilai investasi yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp90 miliar.
Mengutip TribunBanyumas.com, Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas Suharjono mengatakan sekitar 30 dapur yang telah siap beroperasi masih menunggu kepastian mengenai operasional dan distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Baca juga : Parkir Gratis Alfamart Banyumas Resmi Berlaku di 159 Gerai, Cek Aturan dan Nasib Jukir
“Yang dapurnya sudah 100 persen dan siap, benar-benar running, termasuk peralatan dapur sudah komplet, itu sekitar 30-an dapur.”
Suharjono menyampaikan hal tersebut pada Rabu (30/9/2026). Menurut Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas tersebut, dapur yang sudah siap pada umumnya telah masuk dalam pendataan BGN dan masih menunggu tahapan berikutnya.
Dapur MBG Banyumas Senilai Rp90 Miliar Masih Menunggu Kepastian
Suharjono menjelaskan, dapur yang telah selesai dibangun rata-rata membutuhkan investasi sekitar Rp3 miliar. Jika jumlahnya sekitar 30 unit, total nilai investasi yang telah dikeluarkan diperkirakan mencapai Rp90 miliar.
Bangunan dan berbagai perlengkapan tersebut disiapkan oleh mitra untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan program MBG. Namun, dapur yang telah siap masih belum seluruhnya mendapatkan kepastian kapan dapat mulai beroperasi.
Menurut Suharjono, dapur yang telah selesai biasanya sudah terdata di BGN. Setelah itu, terdapat proses verifikasi sebelum nantinya mendapatkan penugasan dan dapat mulai menjalankan kegiatan operasional.
Selain sekitar 30 dapur yang telah siap, masih ada sekitar 15 hingga 16 dapur lain yang masih dalam proses pembangunan.
“Kalau yang masih dalam tahap pembangunan, jumlahnya kurang lebih ada 15-16 dalam proses pembangunan.”
Pernyataan tersebut disampaikan Suharjono, Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas, saat menjelaskan kondisi dapur yang belum selesai dibangun.
Baca juga : Harga BBM 1 Oktober 2026: Cek Daftar Terbaru Pertamax hingga Pertamina Dex
Bahkan, menurut Suharjono, terdapat dapur yang baru memasuki tahap awal pembangunan tetapi kini dihentikan sementara karena mitra masih menunggu kejelasan mengenai kelanjutan program.
Dapur MBG Banyumas Menghadapi Perubahan Insentif
Selain kepastian operasional, perubahan skema insentif juga menjadi perhatian para mitra. Sebelumnya, skema insentif yang berlaku disebut sebesar Rp6 juta per hari tanpa memperhitungkan jumlah paket makanan yang diproduksi.
Sementara itu, skema baru yang direncanakan BGN menggunakan perhitungan Rp2.000 untuk setiap ompreng per hari. Dengan mekanisme tersebut, besaran insentif yang diterima dapur akan menyesuaikan jumlah produksi makanan.
Kondisi produksi dapur MBG yang sudah berjalan di Banyumas juga cukup beragam. Kapasitasnya berkisar mulai dari sekitar 1.400 porsi hingga hampir 3.700 porsi per hari.
Perbedaan jumlah produksi tersebut membuat nilai insentif yang diterima setiap dapur nantinya tidak sama. Hal inilah yang menjadi salah satu persoalan yang ingin disampaikan para mitra kepada BGN.
Dapur MBG Banyumas dan Beban Standar Peralatan
Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas Suharjono juga menyoroti standar peralatan yang harus dipenuhi oleh mitra. Menurutnya, ketentuan mengenai peralatan dapur terus berkembang sehingga mitra harus menyesuaikan fasilitas yang dimiliki.
“Semakin ke sini, kebijakannya, peralatan harus modern. Banyak diganti yang modern. Jadi semakin nambah. Kadang-kadang yang pertama itu diganti semua. Itu kan dari mitra, investasi lagi.”
Suharjono menambahkan bahwa kebutuhan mitra tidak hanya berkaitan dengan pembangunan dapur. Berbagai perlengkapan, penggantian peralatan, sertifikasi, serta kebutuhan untuk memenuhi standar operasional juga membutuhkan biaya.
Menurut Suharjono, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena investasi yang dikeluarkan mitra cukup besar, sedangkan perubahan skema insentif berpotensi mengurangi penerimaan.
“Tuntutannya (BGN) banyak, tapi insentifnya dikurangi banyak.”
Baca juga : Fitur Baru Spotify 2026: 5 Cara Filter Musik Anak agar Rekomendasi Tetap Akurat
Pernyataan tersebut disampaikan Suharjono sebagai bentuk kekhawatiran mitra terhadap keseimbangan antara biaya investasi dan skema insentif yang diterapkan.
Dapur MBG Banyumas serta Kondisi SPPG di Banyumas
Di Kabupaten Banyumas, sebanyak 218 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut sudah berjalan. Namun, terdapat lima SPPG yang mengalami penghentian atau suspensi.
Sementara itu, para mitra berencana mendatangi BGN pada Kamis (1/10/2026). Pertemuan tersebut akan digunakan untuk menyampaikan sejumlah persoalan, mulai dari kepastian operasional dapur, nasib investasi yang telah dikeluarkan, hingga rencana perubahan skema insentif.
Para mitra berharap BGN dapat membuka ruang dialog sehingga berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan dapat dibahas bersama. Kepastian kebijakan dinilai penting bagi mitra yang telah mengeluarkan investasi untuk menyiapkan dapur sesuai standar yang ditentukan.
Informasi mengenai perkembangan dapur MBG Banyumas, program Makan Bergizi Gratis, serta berita terbaru dari lainya diikuti melalui purwokertohitz.com.






