Purwokertohits.com , Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah menutup perdagangan awal pekan dengan melegakan. Mata uang Garuda sukses memperpanjang napas penguatannya selama dua hari berturut-turut di zona hijau, memanfaatkan tekanan yang tengah melanda dolar Amerika Serikat (AS) usai aksi intervensi bersama Washington dan Tokyo di pasar valuta asing.
Berdasarkan data Refinitiv pada perdagangan Senin (3/8), rupiah ditutup terapresiasi 0,06 persen ke posisi Rp17.980 per US$. Kendati kenaikannya tampak menipis dibanding saat pembukaan pagi yang sempat melonjak 0,22 persen ke posisi Rp17.950, rupiah terbukti sanggup membentengi diri dari serbuan dolar AS.
Sepanjang jam perdagangan hari ini, fluktuasi rupiah bergerak di rentang Rp17.950 hingga Rp17.995 per US$. Meski sempat merayap mendekati level psikologis krusial Rp18.000, daya tahan rupiah cukup solid untuk mengunci posisi di zona hijau. Kinerja ini melanjutkan tren positif pada Jumat (31/7) lalu, saat rupiah menguat 0,47 persen di posisi Rp17.990 per US$.
Baca Juga : Segera iPhone Air 2 Dikabarkan Hadir Awal 2027, Ini 5 Peningkatan yang Dibawa
Intervensi AS-Jepang Bikin Dolar AS Bertekuk Lutut
Penyokong utama keperkasaan mata uang kawasan hari ini datang dari luar negeri. Indeks dolar AS (DXY) –yang mengukur kedigdayaan greenback terhadap enam mata uang utama dunia– tercatat melorot 0,12 persen ke posisi 99,793 pada pukul 15.00 WIB.
Terlemparnya indeks dolar AS ke bawah ambang psikologis 100 bukan tanpa sebab. Sentimen pasar mendadak berbalik setelah otoritas moneter Jepang dan AS mengambil langkah drastis melakukan intervensi bersama di pasar valas untuk menopang nilai tukar yen.
Gebrakan intervensi bersama tersebut membakar semangat yen dan merontokkan indeks dolar AS hingga terkoreksi lebih dari 1,5 persen sepanjang pekan lalu. Ruang napas inilah yang dimanfaatkan rupiah untuk tetap bertahan melaju di jalur positif.
Deflasi Juli Melegakan, Namun Defisit Dagang Jadi Pengganjal
Dari dalam negeri, perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis indikator makroekonomi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month). Angka ini berbalik arah dari posisi Juni yang sempat mencatatkan inflasi 0,44 persen.
Baca Juga : AI vs Hacker: Ketika Artificial Intelligence Menjadi Senjata Baru dalam Perang Siber
Secara tahunan (year-on-year), inflasi domestik pun kian melandai ke angka 2,88 persen pada Juli, turun dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Realisasi ini terhitung lebih dingin dibandingkan perkiraan konsensus pasar yang memproyeksikan inflasi bulanan sebesar 0,11 persen dan inflasi tahunan 3,2 persen.
Sayangnya, laju penguatan rupiah tidak bisa berlari lebih kencang. Pasalnya, beban datang dari sektor eksternal di mana neraca perdagangan Indonesia dilaporkan masih tertahan di zona defisit. Padahal, kinerja ekspor bulan Juni sempat tumbuh meyakinkan 8,8 persen secara tahunan, membalikkan koreksi 5,73 persen pada Mei.
Kenaikan ekspor yang belum mampu mengikis defisit neraca dagang menjadi faktor penahan yang membatasi ruang apresiasi rupiah pada perdagangan hari ini.
Bola Kini Ada di Tangan BIKombinasi melandainya inflasi dan masih lebarnya defisit perdagangan kini menjadi bahan kalkulasi rumit bagi Bank Indonesia (BI).
Baca Juga : Rahasia Promosi Online yang Efektif Dimulai dari Cara Membuat Video Pendek yang Menjual
Kebijakan moneter BI ke depan dipastikan akan sangat bergantung pada seberapa jauh stabilitas rupiah bisa dijaga di tengah gejolak global. Para pengambil kebijakan di bank sentral diperkirakan tidak akan terburu-buru. Bank Indonesia akan tetap mencermati secara saksama dinamika pasokan devisa, pergerakan arus modal asing (capital flow), serta arah suku bunga global sebelum menetapkan besaran suku bunga acuan (BI-Rate) mendatang.
Bagi pelaku pasar, bertahannya rupiah di bawah kisaran Rp18.000 per US$ menjadi sinyal positif jangka pendek, meski kewaspadaan terhadap tantangan neraca dagang tetap wajib dipasang tinggi-tinggi.






