Purwokertohitz.com, Wonosobo – Mengutip dari Kompas.com, fenomena embun es atau embun beku kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, sejak awal hingga pertengahan Juli 2026. Di balik panorama yang memikat wisatawan, suhu dingin ekstrem justru membawa kerugian bagi para petani kentang. Tanaman yang belum memasuki masa panen rusak bahkan mati akibat suhu udara yang turun di bawah titik beku, Kamis(23/7).
Fenomena embun beku terjadi di sejumlah lahan pertanian kentang di kawasan Dieng yang berada di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Penurunan suhu hingga di bawah 0 derajat Celsius membuat embun berubah menjadi kristal es yang menempel di permukaan daun. Saat matahari terbit, jaringan daun yang membeku rusak sehingga menghitam, mengering, lalu mati.
Salah seorang petani kentang di Dieng, Hartanto, mengaku tanaman kentangnya di lahan seluas sekitar 500 meter persegi mengalami kerusakan akibat embun beku yang muncul hampir setiap pagi.
Baca Juga : Persija Resmi Rekrut Nadeo Argawinata, Kontrak Lima Tahun hingga 2031
“Awalnya hampir setiap hari muncul embun beku. Kadang suhunya minus satu, kadang sampai nol derajat. Akibatnya tanaman banyak yang mati,” ujar Hartanto.
Ia menjelaskan, tanaman kentangnya baru berumur sekitar 80 hari. Padahal, kentang umumnya dipanen setelah berumur sekitar 110 hari. Namun, cuaca dingin ekstrem datang lebih awal sehingga umbi belum berkembang secara optimal.
“Seharusnya panennya sekitar 110 hari. Tapi baru umur 80 hari sudah kena embun es lagi,” katanya.
Untuk menggarap lahan seluas 500 meter persegi tersebut, Hartanto telah mengeluarkan modal sekitar Rp4 juta. Biaya itu digunakan untuk pengolahan lahan, pembelian bibit, pupuk, hingga proses penanaman.
Hartanto mengaku belum bisa menghitung total kerugian karena panen belum dilakukan. Namun, ia memperkirakan hasil produksi akan turun drastis akibat banyaknya tanaman yang mati.
“Modalnya sekitar Rp4 jutaan. Sekarang mati semua,” ujarnya.
Menurut Hartanto, tanaman kentang yang berumur di bawah 40 hari mengalami dampak paling parah. Tanaman pada usia tersebut diperkirakan gagal panen total karena mati sebelum sempat membentuk umbi.
“Kalau yang baru tanam sekitar 40 hari ke bawah, kerugiannya total karena tanamannya mati semua,” katanya.
Fenomena embun beku tahun ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Hamparan tanaman kentang di sejumlah lahan pertanian Dieng yang sebelumnya hijau kini berubah kecokelatan hingga menghitam akibat kerusakan jaringan daun.
Selain menurunkan hasil panen, kerusakan tanaman juga mengancam pendapatan petani. Budidaya kentang membutuhkan biaya produksi yang tidak sedikit sehingga cuaca ekstrem menjadi risiko besar yang harus dihadapi.
Baca juga : SSD atau HDD, Mana yang Lebih Cocok untuk Laptop? Simak Perbedaan dan Cara Memilihnya
Meski demikian, para petani berharap kondisi cuaca segera membaik agar tanaman yang masih bertahan tetap dapat menghasilkan umbi, meski produksinya diperkirakan tidak maksimal. Mereka juga berharap harga kentang tetap tinggi sehingga dapat membantu menutup sebagian kerugian.
Sejumlah petani telah berupaya mengurangi dampak embun beku dengan menyemprotkan air ke tanaman pada pagi hari untuk mencairkan kristal es yang menempel di daun. Namun, upaya tersebut belum mampu melindungi tanaman secara optimal apabila suhu dingin ekstrem masih terus terjadi.
“Apabila fenomena embun es masih terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan, kami khawatir luas lahan yang mengalami kerusakan akan semakin bertambah,” katanya.






