KesehatanPengetahuan

Lina Dwi Puryanti Tekankan Pentingnya Self Care untuk Menjaga Kesehatan Mental Guru BK

×

Lina Dwi Puryanti Tekankan Pentingnya Self Care untuk Menjaga Kesehatan Mental Guru BK

Sebarkan artikel ini
Self care guru BK untuk menjaga kesehatan mental bersama Lina Dwi Puryanti dalam Seminar Pemuda Digital UBSI Purwokerto.
Lina Dwi Puryanti, M.Pd., menyampaikan materi tentang self care untuk meningkatkan kesehatan mental guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Seminar & Award Pemuda Digital UBSI Purwokerto di Hotel Luminor Purwokerto, 14 Oktober 2026.

Purwokertohitz.com, Purwokerto – Menjaga kesehatan mental menjadi hal penting bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang setiap hari mendampingi siswa menghadapi berbagai persoalan. Pentingnya merawat diri atau self care menjadi materi yang disampaikan Lina Dwi Puryanti, M.Pd., dalam kegiatan Seminar & Award Pemuda Digital yang diselenggarakan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Purwokerto di Hotel Luminor Purwokerto, Rabu (14/10).

Dalam materi bertajuk Self Care untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Guru BK, Lina mengajak para pendidik untuk memberikan perhatian terhadap kondisi diri sendiri, di tengah tanggung jawab mereka dalam mendampingi siswa. Materi tersebut menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan kebutuhan untuk memulihkan kondisi fisik maupun psikologis.

Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi Guru BK

Guru BK memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan, memahami, dan mendampingi siswa yang menghadapi beragam permasalahan. Tuntutan tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika guru harus menangani banyak kebutuhan siswa dalam waktu bersamaan.

Baca juga : Nurul Ichsan Paparkan Pemanfaatan AI untuk Mengembangkan Aplikasi Digital bagi Guru BK 

Dalam presentasinya, Lina mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menjadi sumber tekanan bagi guru BK, antara lain rasio guru dan murid yang tidak ideal, stigma dan tuntutan ganda, kurangnya dukungan sistem, serta risiko compassion fatigue.

stilah compassion fatigue merujuk pada tekanan emosional yang dapat muncul akibat keterlibatan empati ketika mendampingi penderitaan orang lain. Materi tersebut menjelaskan bahwa empati tanpa pemulihan, batas profesional, dan dukungan yang memadai dapat menjadi beban.

Presentasi Lina juga mencantumkan data survei RAND Corporation tahun 2022 yang menyebutkan 73 persen guru di Indonesia melaporkan sering mengalami stres terkait pekerjaan. Selain itu, materi tersebut merujuk pada studi Rostian dan rekan-rekan (2021) yang mencatat sekitar 30–36 persen guru BK di beberapa wilayah mengalami burnout dalam kategori sedang hingga tinggi.

Data tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental pendidik.

Self Care Bukan Berarti Mengabaikan Tanggung Jawab

Melalui materi yang disampaikan, Lina mengingatkan bahwa guru BK juga perlu mengenali kondisi dirinya sendiri. Perhatian terhadap kesehatan mental menjadi penting ketika kelelahan mulai terasa berat, konsentrasi terganggu, atau tekanan emosional memengaruhi pelaksanaan tugas profesional.

Dalam kondisi tersebut, guru BK perlu mengenali kebutuhan dirinya dan mencari dukungan yang sesuai. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari upaya merawat diri agar tetap mampu memberikan pendampingan kepada siswa.

Kesehatan mental dalam materi tersebut dijelaskan melalui konsep kesejahteraan psikologis atau psychological well-being. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika seseorang mampu berfungsi secara optimal dan merealisasikan potensinya untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

WHO — Mental Health at Work

Dengan demikian, kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan masalah, tetapi juga kemampuan seseorang menjalani aktivitas dan menghadapi tantangan secara lebih baik.

Empat Dimensi Self Care yang Perlu Diperhatikan

Lina menjelaskan beberapa dimensi self care yang dapat menjadi perhatian guru BK dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, perawatan fisik, yang meliputi menjaga kualitas tidur, berolahraga, dan makan secara teratur. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh.

Kedua, perawatan emosional, yaitu kemampuan melakukan regulasi emosi dan menyalurkan perasaan secara tepat. Pengelolaan emosi menjadi penting ketika guru menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan kesabaran dan empati.

Ketiga, perawatan psikologis, salah satunya melalui mindfulness. Pendekatan ini berkaitan dengan kesadaran terhadap kondisi diri dan pengalaman yang sedang dihadapi.

Baca juga : UBSI Purwokerto Gelar Seminar dan Award Pemuda Digital, Ajak Guru BK Adaptif terhadap AI dan Peduli Kesehatan Mental 

Keempat, dimensi sosial dan profesional, termasuk menetapkan boundaries atau batas yang sehat. Batas profesional membantu guru memahami tanggung jawab pekerjaan sekaligus memberikan ruang bagi kebutuhan pribadi.

Keempat dimensi tersebut menunjukkan bahwa merawat diri dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang memperhatikan kebutuhan fisik, emosional, psikologis, serta hubungan sosial dan profesional

Latihan Pernapasan dan Grounding untuk Mengelola Tekanan

Selain membahas dimensi self care, Lina memperkenalkan dua teknik sederhana dalam presentasinya, yaitu breathing atau latihan pernapasan dan grounding.

Latihan pernapasan yang dicantumkan dalam materi meliputi metode 4-7-8 dan 4-4-4. Sementara itu, teknik grounding mencakup pendekatan sensorik, fisik, dan kognitif.

Kedua teknik tersebut diperkenalkan sebagai pilihan latihan sederhana yang dapat dipelajari dalam upaya memperhatikan kondisi diri. Apabila tekanan emosional terasa berat atau mengganggu pekerjaan, guru tetap perlu mempertimbangkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Guru yang Tenang Dapat Menghadirkan Ruang Aman bagi Siswa

Pada bagian akhir materi, Lina mengangkat gagasan bahwa guru yang tenang dapat menghadirkan ruang yang aman bagi siswa. Gagasan ini berkaitan dengan psychological safety, yaitu pentingnya suasana yang membuat siswa merasa aman ketika berinteraksi dan menyampaikan persoalan.

Kondisi guru menjadi salah satu hal yang relevan dalam membangun hubungan pendampingan. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental pendidik perlu berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kualitas layanan BK.

Melalui materi self care, Lina mengajak guru BK untuk tidak hanya berfokus pada kebutuhan siswa, tetapi juga mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Perawatan diri, pengelolaan emosi, dan keberanian mencari dukungan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan peran guru sebagai pendamping siswa di lingkungan pendidikan.

Baca berita lainnya di PurwokertoHitz

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *