Purwokertohitz.com, Purwokerto – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto menggelar kegiatan Seminar & Award Pemuda Digital bertema “Smart with AI – Strong in Mind – Kind at Heart”. Kegiatan ini mengajak para guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sekaligus menjaga kesehatan mental dalam mendampingi siswa. Acara tersebut diselenggarakan di Hotel Luminor Purwokerto pada Rabu (14/10).
Seminar ini diikuti para guru BK tingkat SMA/SMK dari wilayah Barlingmascakeb, meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen. Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yakni Nurul Ichsan, M.Kom., selaku Founder Digital Creative Community (DICO), serta Lina Dwi Puryanti, M.Pd., selaku Founder Akademi Leader Indonesia. Para peserta juga mendapatkan fasilitas makan siang dan coffee break selama kegiatan berlangsung.
Ketua panitia sekaligus Kepala Kampus UBSI Purwokerto, Vadllya Ma’arif, M.Kom., menyampaikan bahwa seminar ini menjadi salah satu upaya kampus untuk berbagi pengetahuan dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan melalui kolaborasi dengan mitra industri.
“Melalui acara ini, tentunya kami sebagai Universitas Bina Sarana Informatika yang sudah terakreditasi unggul ingin mengimplementasikan keunggulan tersebut untuk bisa share kepada rekan-rekan guru, rekan-rekan sekolah, memberikan kontribusi yang positif, dan hal-hal yang bisa kami sampaikan atau share ke depan,” ujar Vadllya.
Baca juga : Naruto Shadow Rising: 5 Fakta Manga Baru Masashi Kishimoto yang Bikin Penasaran
Ia menjelaskan, kolaborasi dengan mitra industri menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan solusi yang dapat membantu para pendidik menjalankan tugas secara lebih efektif.
“Salah satunya kami mengundang DICO sebagai digital marketing community untuk memberikan informasi-informasi dan aplikasi-aplikasi yang bisa meringankan tugas dari guru BK. Harapan kami ke depan tentu kami ingin terus berkolaborasi dengan sekolah, share ilmu, share manfaat, berkolaborasi secara positif, baik di dunia pendidikan, dunia industri, maupun wirausaha,” tambahnya.
Guru BK Go Digital, AI Bukan Pengganti Pendidik

Dalam sesi pertama, Nurul Ichsan membahas pentingnya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung pekerjaan guru BK. Ia mengawali pemaparannya dengan pantun yang mengundang suasana hangat di antara peserta.
“Jalan-jalan dengan sepatu rodaku, seminar pemuda digital di hari Rabu. Guru BK semakin maju, di Luminor Hotel tambah ilmu baru,” ucap Nurul dalam pantun pembuka.
Tantangan yang dihadapi guru BK semakin beragam, mulai dari informasi karier, perubahan kurikulum, persoalan kesehatan mental, hingga perundungan atau bullying yang juga dapat terjadi pada anak usia sekolah dasar.
Nurul mengibaratkan AI sebagai mesin jet tempur yang canggih, tetapi tetap membutuhkan pilot untuk mengendalikannya. Dalam dunia pendidikan, manusia tetap menjadi pihak yang menentukan arah pemanfaatan teknologi.
“AI butuh pilot, dan pilotnya adalah kita semua. Guru BK harus jauh lebih dulu menggunakan AI untuk mendampingi siswa,” ujar Nurul.
Ia menegaskan bahwa AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan profesi guru. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu untuk meningkatkan efektivitas pekerjaan, terutama dalam pengelolaan administrasi dan penyediaan layanan kepada siswa.
“Tadi materinya memang kita bawakan bahwa kita sudah masuk di era digital. Maka guru BK pun tidak hanya konseling secara konvensional, tetapi harus beradaptasi dengan pendekatan konvensional dan juga digital. Makanya guru BK harus go digital dengan aplikasi yang kita hadirkan tadi,” jelasnya.
Baca juga : BPJS PBI Banyumas: 5 Fakta Pencoretan 130 Ribu Peserta dan Cara Aktifkan Kembali
Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan konsep BK Digital, yaitu pemanfaatan teknologi untuk mendukung administrasi, pengelolaan data siswa, dan pelaksanaan layanan bimbingan konseling tanpa menghilangkan pendekatan emosional dalam proses pendampingan.
Para guru juga mendapatkan pengenalan praktik pembuatan situs web untuk kebutuhan administrasi BK. Dengan bantuan prompt coding dan dokumen Product Requirement Document (PRD), pembuatan situs web sederhana diperkenalkan sebagai salah satu alternatif yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar 5–10 menit, bergantung pada kebutuhan dan kesiapan sistem.
Selain itu, dipaparkan pula rencana kolaborasi UBSI dan DICO dalam pengembangan aplikasi BK digital bagi sekolah mitra. Berdasarkan materi yang disampaikan, program tersebut direncanakan mencakup lima tahap pengembangan fitur hingga 2029, mulai dari foundation, smart counseling, data insight, collaboration, hingga AI next level.
Pengembangan aplikasi ini diharapkan dapat membantu sekolah mengoptimalkan layanan BK sekaligus meringankan beban administrasi guru.
Lina Dwi Puryanti Tekankan Pentingnya Kesehatan Mental Guru BK

Selain membahas pemanfaatan teknologi, seminar ini mengangkat pentingnya menjaga kesehatan mental para guru BK. Lina Dwi Puryanti, M.Pd., melalui materi bertajuk “Guru BK Tangguh, Maka Layanan Akan Tumbuh”, mengingatkan bahwa konselor juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi emosional dirinya sendiri.
Menurut Lina, guru BK sering kali menjadi tempat siswa menyampaikan berbagai persoalan. Namun, tanggung jawab tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan menjaga batasan emosional dan memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.
“Kata-kata hari ini adalah bahwa guru BK yang tangguh itu bukan guru BK yang selalu terlihat kuat, tapi guru BK yang tetap bisa merawat murid-muridnya tanpa kehilangan dirinya sendiri,” tutur Lina.
Ia juga mengajak para peserta merefleksikan keseimbangan antara mendampingi siswa dan memenuhi kebutuhan diri sendiri.
Selama ini kita selalu berusaha hadir untuk murid. Namun, kapan terakhir kali kita hadir untuk diri sendiri?” ujarnya.
Lina menjelaskan bahwa beban pendampingan yang tinggi berpotensi menimbulkan compassion fatigue atau kelelahan empati. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang terus-menerus terlibat secara emosional dalam persoalan orang lain tanpa memiliki waktu pemulihan yang cukup.
Karena itu, guru BK perlu menetapkan batasan emosional agar persoalan siswa tidak terus terbawa ke kehidupan pribadi. Ia juga mengingatkan bahwa meminta bantuan ketika mengalami tekanan bukanlah tanda kelemahan.
“Guru BK itu manusia, bukan malaikat. Mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dan mencari bantuan profesional bukanlah tanda bahwa kita lemah. Justru itu adalah bentuk keberanian untuk merawat diri sendiri agar kita tetap bisa memberikan pelayanan yang maksimal,” ungkapnya.
Untuk menjaga kesehatan mental, Lina menyarankan tiga langkah utama, yakni memberikan jeda di antara sesi konseling, mengelola emosi secara sehat, dan memanfaatkan komunitas seperti Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) sebagai ruang berbagi serta saling menguatkan.
Baca juga : Harga BBM 1 Oktober 2026: Cek Daftar Terbaru Pertamax hingga Pertamina Dex
Peserta juga diajak mempraktikkan teknik pernapasan relaksasi 4-7-8 Breathing sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu menenangkan pikiran di tengah kesibukan.
“Kita selalu berusaha untuk hadir untuk orang lain, untuk murid-murid kita, bahkan untuk orang-orang di sekitar kita. Namun, kita juga perlu hadir untuk diri sendiri karena kita juga berhak untuk hidup dengan tenang, kita berhak untuk hidup dengan damai, sehingga kita juga bisa memberikan layanan yang terbaik untuk orang-orang di sekitar kita,” kata Lina.
UBSI Purwokerto Berikan Penghargaan kepada Tiga Sekolah

Seminar dan Award Pemuda Digital juga menjadi momentum bagi UBSI Purwokerto untuk memberikan penghargaan kepada tiga sekolah yang paling banyak mengirimkan siswanya untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui program Beasiswa Jalur Undangan (BJU).
Ketiga sekolah penerima penghargaan tersebut adalah SMK Ma’arif NU Bobotsari, SMK Cokroaminoto Wanadadi, dan SMK Purbalingga.
Bu Ririn, perwakilan SMK Ma’arif NU Bobotsari, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada UBSI Purwokerto atas kesempatan yang diberikan melalui program beasiswa tersebut.
Menurutnya, fasilitas BJU membantu siswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Melalui program tersebut, sekitar 8–10 siswa dari SMK Ma’arif NU Bobotsari berhasil melanjutkan pendidikan di UBSI. Sebagian siswa berasal dari keluarga pedagang dan memiliki keterbatasan biaya, tetapi menunjukkan potensi akademik yang baik, termasuk meraih peringkat pertama di kelas.
Program beasiswa ini diharapkan dapat membuka kesempatan bagi siswa untuk meraih cita-cita, meningkatkan kompetensi, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Peserta Siap Terapkan Materi Seminar di Sekolah
Kegiatan tersebut mendapatkan respons positif dari para peserta. Sejumlah guru BK menyatakan akan menerapkan pengetahuan yang diperoleh, baik dalam penggunaan teknologi digital maupun dalam menjaga kesehatan mental.
Baca juga : Air PDAM Purwokerto Mati, 5 Fakta Warga Kesulitan Dapatkan Air Bersih
Salah satu peserta, Lute, mengatakan bahwa materi seminar menjadi pengingat bahwa konselor juga membutuhkan dukungan dari orang lain.
“Iya, oke. Terima kasih. E kalau saya untuk kedepannya nanti ke sekolah apa yang telah saya dapatkan hari ini akan saya terapkan di sekolah saya. Terus untuk diri sendiri juga, karena konselor itu kan tetap butuh orang lain ya. Jadi kita juga enggak boleh memendam perasaan sendiri nih. Jadi kita juga tetap butuh psikolog yang lain untuk sharing ataupun teman yang sesama konselor untuk meluapkan apa yang menjadi yang kita pendam supaya kita juga berikutnya pelayanan ke ke anak-anak kami jadi lebih fokus dan lebih menyenangkan” ujar lute.
Peserta lainnya, Ahmad Riayatno, berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendampingan kepada siswa sekaligus membantunya lebih rileks dalam menghadapi berbagai persoalan di sekolah.
“Baik, terima kasih kesan-kesan dari seminar ini. Untuk sekolah, tentunya ingin yang lebih baik lagi, khususnya untuk anak-anak, dan untuk diri saya sendiri, tentunya pengin lebih rileks lagi dalam melaksanakan apapun yang dihadapi” kata Ahmad.
Sementara itu, M. Salim menyoroti pentingnya digitalisasi layanan BK di sekolah.
“Baik, hari ini saya mengikuti seminar digital dari BSI Purwokerto yang sangat luar biasa. Ada dua narasumber, yang pertama itu berkaitan dengan BK menuju go digital, yang kedua itu BK tetap menggunakan rasa. Jadi, apa yang akan saya terapkan untuk ke depannya? Yang jelas saya akan mendigitalisasi BK di SMK saya, dan untuk yang kedua, bagaimana caranya BK itu menjadi sosok yang tumbuh terlebih dahulu bukannya hanya untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri”Kata Salim.
Perkuat Kolaborasi Kampus dan Sekolah
Melalui Seminar dan Award Pemuda Digital, UBSI Purwokerto berharap dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan mitra industri untuk menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam layanan bimbingan konseling perlu diimbangi dengan pendekatan humanis dan perhatian terhadap kesehatan mental pendidik.
Dengan mengusung semangat “Smart with AI – Strong in Mind – Kind at Heart”, para guru BK diharapkan semakin siap menghadapi tantangan era digital, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta memberikan layanan yang lebih efektif dan menyenangkan bagi siswa.
Baca berita lainnya di PurwokertoHitz






