Pendidikan

Ketika Tangan Mulai Bicara, Gerakan Asa Menyalakan Harapan Inklusif di Purwokerto

×

Ketika Tangan Mulai Bicara, Gerakan Asa Menyalakan Harapan Inklusif di Purwokerto

Sebarkan artikel ini
Pelatihan Bahasa Isyarat Gerakan Asa Season 1 2026 bertema “Satu Isyarat Sejuta Makna: Menghubungkan Bahasa untuk Serasa” di Aula UBSI Purwokerto, Sabtu (24/10/2026),
Pelatihan Bahasa Isyarat Gerakan Asa Season 1 2026 bertema “Satu Isyarat Sejuta Makna: Menghubungkan Bahasa untuk Serasa” di Aula UBSI Purwokerto, Sabtu (24/10/2026),

Purwokertohitz.com, Purwokerto – Sebuah percakapan tidak selalu harus dimulai dengan suara. Terkadang, sapaan hadir melalui gerakan tangan, tatapan mata, dan kesediaan untuk memahami orang lain. Hal itulah yang dipelajari puluhan peserta dalam Pelatihan Bahasa Isyarat Gerakan Asa Season 1 2026 di Aula Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Purwokerto, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pagi itu, sebanyak 86 peserta mengikuti kegiatan bertema “Satu Isyarat Sejuta Makna: Menghubungkan Bahasa untuk Serasa”. Kegiatan yang bekerja sama dengan komunitas Bahasa Isyarat Banyumas dan komunitas dari Purbalingga tersebut bukan sekadar memperkenalkan gerakan tangan, melainkan mengajak peserta memahami cara berkomunikasi dengan teman Tuli secara lebih dekat.

Di dalam ruangan, perhatian peserta tertuju pada pemateri yang memperagakan gerakan di hadapan mereka. Sesekali, peserta diminta memperhatikan penjelasan, mencoba memahami isyarat, dan ikut terlibat dalam percakapan. Sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa asing perlahan menjadi bahan pembelajaran bersama.

Baca juga : UBSI Purwokerto Gelar Seminar dan Award Pemuda Digital, Ajak Guru BK Adaptif terhadap AI dan Peduli Kesehatan Mental 

Dari gerakan sederhana itu, peserta diajak melihat bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan kata-kata, tetapi juga tentang bagaimana pesan diterima dan orang lain merasa dihargai.

Sambutan Kampus yang Diselingi Pantun

Dukungan terhadap kegiatan ini disampaikan Kepala Kampus UBSI Purwokerto, Vadllya Ma’arif, M.Kom. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi penyelenggaraan Gerakan Asa Season 1 2026 dan menyatakan dukungan terhadap kegiatan positif yang digagas komunitas.

sambutan kepala kampus ubsi purwokerto dalam acara pelatihan bahasa isyarat gerakan asa season 1 tahun 2026
sambutan kepala kampus ubsi purwokerto dalam acara pelatihan bahasa isyarat gerakan asa season 1 tahun 2026

Ia juga menekankan bahwa komunikasi merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, kesalahpahaman dapat terjadi di antara orang-orang yang sama-sama menggunakan bahasa lisan. Karena itu, memahami cara berkomunikasi dengan orang lain menjadi hal yang perlu terus dipelajari.

Vadllya kemudian membuka kegiatan secara resmi. Suasana sambutan terasa lebih santai ketika ia menyampaikan pantun yang mengundang respons peserta.

“Jalan-jalan ke Kota Kudus,” ucapnya.

“Cakep!” jawab peserta.

“Eh, malah nyasar ke Sokaraja.”

“Cakep!” sahut peserta kembali.

“Kalau ada yang bertanya tentang kampus, kuliah?”

“BSI aja!” jawab peserta.

Selingan tersebut menghadirkan suasana akrab di tengah kegiatan yang membawa pesan penting tentang komunikasi dan inklusivitas.

Baca juga : Nurul Ichsan Paparkan Pemanfaatan AI untuk Mengembangkan Aplikasi Digital bagi Guru BK

Berani Memulai Percakapan dari Hal Sederhana

Bagi seseorang yang belum pernah berinteraksi dengan teman Tuli, memulai percakapan bisa menimbulkan kebingungan. Harus menggunakan cara apa? Bagaimana menyampaikan maksud ketika tidak memahami bahasa isyarat? Pertanyaan semacam itulah yang menjadi bagian dari pembelajaran dalam kegiatan tersebut.

materi pelatihan pembekalan bahasa isyarat gerakan asa season 1 tahun 2026
materi pelatihan pembekalan bahasa isyarat gerakan asa season 1 tahun 2026

Melalui materi yang disampaikan Abiyyu Aihan Pratama, peserta diajak mengenal identitas Tuli, budaya Tuli, dan cara membangun komunikasi yang tepat. Ia menjelaskan bahwa Tuli tidak semata-mata berkaitan dengan kondisi pendengaran, tetapi juga dapat menjadi identitas yang berhubungan dengan bahasa dan budaya komunitas.

Bahasa isyarat pun diperkenalkan sebagai sarana komunikasi yang memiliki aturan dan makna. Peserta belajar bahwa setiap komunitas dapat memiliki variasi bahasa isyarat sesuai lingkungan dan kebiasaan masing-masing.

Pembelajaran kemudian bergerak ke situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana memanggil teman Tuli ketika ingin mengajak berbicara? Abiyyu menjelaskan bahwa seseorang dapat melambaikan tangan dalam jangkauan pandangan atau menyentuh bahu secara sopan apabila situasinya memungkinkan. Lampu juga dapat digunakan untuk menarik perhatian dalam kondisi tertentu.

Kontak mata menjadi hal penting lainnya. Ketika berbicara dengan teman Tuli, seseorang perlu memberikan perhatian kepada lawan bicaranya, bukan justru hanya berfokus kepada penerjemah bahasa isyarat jika ada.

Peserta juga diperkenalkan pada penggunaan tulisan melalui kertas atau telepon seluler sebagai alternatif ketika belum menguasai bahasa isyarat. Dengan demikian, keterbatasan kosakata tidak harus menjadi alasan untuk menghindari percakapan.

Materi tersebut menegaskan satu hal: keberanian untuk mencoba berkomunikasi dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih setara.

Baca juga :Lina Dwi Puryanti Tekankan Pentingnya Self Care untuk Menjaga Kesehatan Mental Guru BK 

Dari Pelatihan Menuju Empati Sehari-hari

Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan diharapkan tidak berhenti ketika acara berakhir. Bagi Haikal, ketua komunitas sekaligus inisiator yang terlibat dalam Gerakan Asa, kegiatan ini membawa harapan agar semakin banyak masyarakat mengenal bahasa isyarat dan memahami teman Tuli.

“Harapannya dengan satu gerakan ini bisa menumbuhkan semangat, menumbuhkan api gerakan teman-teman untuk mewujudkan Banyumas atau Indonesia lebih inklusif,” ujar Haikal.

Harapan itu menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan mengenalkan bahasa isyarat. Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan berinteraksi tanpa membeda-bedakan orang berdasarkan cara mereka berkomunikasi.

Hal serupa dirasakan Sazi. Setelah mengikuti pembekalan, ia berharap pengetahuan yang diperolehnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika bertemu dan berkomunikasi dengan teman Tuli.

“Harapannya untuk setelah pembekalan pelatihan bahasa isyarat ini yang saya dapat terapkan di kehidupan sehari-hari adalah saya dapat berkomunikasi secara langsung dengan rekan-rekan Tuli dan juga memiliki empati yang besar untuk teman-teman,” kata Sazi.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa belajar bahasa isyarat bukan semata-mata menghafal gerakan. Ada sikap menghargai, kesabaran, dan kemauan mendengarkan kebutuhan orang lain yang perlu tumbuh bersamanya.

Satu Isyarat untuk Masa Depan yang Lebih Terbuka

Pelatihan Bahasa Isyarat Gerakan Asa Season 1 2026 menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan dan kepedulian. Sebanyak 86 peserta tidak hanya diajak mengenal bahasa isyarat, tetapi juga memahami pentingnya menghormati identitas, budaya, dan cara berkomunikasi teman Tuli.

Harapan Haikal dan Sazi memperlihatkan bahwa manfaat kegiatan ini akan terasa ketika ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan. Sapaan sederhana, perhatian yang tepat, dan keberanian mencoba bahasa isyarat dapat membuka kesempatan untuk berinteraksi tanpa rasa canggung.

Baca berita lainnya di PurwokertoHitz.com

Pada akhirnya, membangun lingkungan inklusif tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Langkah itu bisa berawal dari satu gerakan tangan, satu tatapan yang penuh perhatian, dan satu kemauan untuk memahami.

Sebab, ketika tangan mulai bicara, yang sedang dibangun bukan hanya percakapan, melainkan juga jembatan agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk terhubung.

Baca Juga: Informasi Beasiswa Kuliah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *