Purwokertohitz.com, – Pertunjukan Sepur Kluthuk Serayu menjadi pembuka Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026 di Hetero Space Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (10/9/) malam.
Bunyi lonceng dan peluit kereta api mengiringi pertunjukan yang membawa penonton menyusuri perjalanan budaya Banyumas melalui puisi, gamelan, keroncong, tari Ebeg, hingga Megot.
Mengutip dari TRIBUNBANYUMAS .CO.ID, pertunjukan yang digelar Yayasan Lengger Bicara tersebut berlangsung sekitar 15 menit. Meski singkat, Sepur Kluthuk Serayu mampu menyajikan perjalanan budaya Banyumas dengan konsep yang menarik dan dekat dengan penonton.
Baca juga :Lowongan Kerja Bangor Karangklesem 2026: Peluang Menarik, Lulusan SMA Bisa Daftar!
Pertunjukan diawali seorang anak perempuan yang membacakan puisi tentang stasiun tua dan rel kereta api. Tidak lama kemudian, anak-anak lainnya muncul dan membentuk formasi menyerupai gerbong kereta.
Formasi tersebut menjadi gambaran perjalanan dari satu cerita menuju cerita lainnya. Dari suasana stasiun dan rel, penonton kemudian diajak memasuki bagian yang menggambarkan Sungai Serayu.
Anak-anak memainkan selendang berwarna biru yang menggambarkan aliran air Sungai Serayu. Suasana semakin kental dengan nuansa Banyumasan ketika Azka memainkan gamelan.
Kanza kemudian menyanyikan langgam keroncong “Di Tepinya Sungai Serayu”. Alunan musik tersebut membuat suasana pertunjukan semakin terasa sebagai perjalanan budaya masyarakat Banyumas.
Setelah itu, panggung berubah menjadi lebih dinamis melalui penampilan tari Ebeg yang dibawakan Prabhu dan Rendra. Kesenian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Sepur Kluthuk Serayu.
Menjelang akhir pertunjukan, seluruh pemain berkumpul di atas panggung. Mereka kemudian mengajak penonton untuk ikut menarikan Megot bersama-sama.
Bunyi lonceng dan peluit kereta kembali terdengar sebagai tanda pertunjukan berakhir. Anak-anak kemudian berbaris sambil menyanyikan lagu “Naik Kereta Api” sebelum meninggalkan panggung.
Sepur Kluthuk Serayu Jadi Penghubung Cerita Budaya
Penulis naskah Sepur Kluthuk Serayu, R Satria Setyanugraha, menjelaskan bahwa kereta api dalam pertunjukan tersebut digunakan sebagai penghubung perjalanan dari satu cerita ke cerita lainnya.
“Dari rel dan stasiun, penonton dibawa menyusuri Sungai Serayu, menyaksikan Ebeg, mendengar gamelan, hingga akhirnya menari bersama dalam suasana Banyumasan,” kata Satria.
Baca juga :Syaif Hidayat Diekshumasi, Polisi Ungkap Dugaan Kekerasan di Banyumas
Konsep tersebut membuat kereta api tidak hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi juga menjadi simbol perjalanan untuk memperkenalkan berbagai unsur budaya Banyumas kepada penonton.
Pertunjukan Sepur Kluthuk Serayu sekaligus menjadi pembuka rangkaian Banjoemas Heritage Week 2026 yang berlangsung pada 10-13 September 2026.
Banjoemas Heritage Week 2026 Kenalkan Sejarah Banyumas
Community Coordinator BHHC, Grytje Gregory Hadiwono, mengatakan Banjoemas Heritage Week 2026 dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengan sejarah serta warisan budaya Banyumas.
Menurut Gery, kegiatan heritage tidak hanya diperuntukkan bagi komunitas atau pemerhati sejarah. Generasi muda dan masyarakat umum juga perlu mendapatkan ruang untuk mengenal sejarah yang ada di sekitar mereka.
“Kami ingin, heritage tidak hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan oleh komunitas. Masyarakat juga perlu mendapatkan ruang untuk mengenal dan berinteraksi langsung dengan sejarah yang ada di sekitarnya,” ujar Gery.
Selain pertunjukan seni, BHW 2026 juga menghadirkan sejumlah agenda yang mengangkat sejarah, arsip, transportasi, dan kebudayaan.
Salah satunya adalah Pameran 130 Tahun SDS. Pameran tersebut mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan transportasi serta perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di kawasan Banyumas.
Gery menjelaskan bahwa pelestarian sejarah tidak hanya berkaitan dengan menjaga benda atau dokumen lama. Arsip dan peninggalan sejarah juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan agar tetap hidup dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, keberadaan arsip memiliki nilai penting karena dapat membantu masyarakat memahami bagaimana sebuah daerah berkembang dari waktu ke waktu.
Sejarah Banyumas yang tersimpan melalui berbagai dokumen, bangunan, benda, maupun cerita masyarakat dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang menarik. Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya mengenal sejarah melalui buku, tetapi juga dapat melihat hubungan antara peninggalan masa lalu dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Melalui Sepur Kluthuk Serayu, Banjoemas Heritage Week 2026 membuka rangkaiannya dengan cara yang kreatif. Seni pertunjukan menjadi media untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Banyumas secara ringan sekaligus mengajak masyarakat ikut merasakan langsung kekayaan budaya daerah.
Perpaduan puisi, musik, tari, dan cerita perjalanan kereta membuat pesan tentang sejarah terasa lebih dekat dengan penonton. Konsep tersebut juga menunjukkan bahwa upaya mengenalkan heritage dapat dilakukan melalui berbagai bentuk kreatif dan tidak harus selalu dalam format pameran atau kegiatan yang bersifat formal.
Kehadiran generasi muda dalam pertunjukan turut memberikan warna tersendiri. Mereka tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga ikut terlibat dalam proses mengenalkan kesenian dan cerita lokal kepada masyarakat.
Baca juga : PT IKN Banyumas Disorot, Bupati Sadewo Bongkar Soal Pabrik di Lahan LSD
Dengan pendekatan seperti ini, kegiatan heritage diharapkan mampu membangun ketertarikan masyarakat terhadap sejarah Banyumas. Warisan budaya pun tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat terus dipelajari, dinikmati, dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman.




