Purwokertohits.com , Jakarta – Sebaran spektrum frekuensi sepanjang 260 MHz—70 MHz di rentang 700 MHz dan 190 MHz di rentang 2600 MHz—sangat cukup bagi tiga operator untuk memberikan layanan generasi kelima (5G), tanpa mengganggu pelanggan 4G LTE (Long Term Evolution) yang selama ini terpaksa menerima layanan 5G rasa 4G.
Selama ini, sebagian spektrum di 850 MHz, 900 MHz, 1800 MHz, 2100 MHz, dan 2300 MHz diambil sedikit-sedikit, lalu digabungkan dengan teknologi DSS (Dynamic Spectrum Sharing) untuk layanan “5G rasa 4G”. Cakupannya pun hanya sekitar pusat layanan operator, dengan kapasitas maksimal sekitar 200 Mbps (megabit per second).
Secara sifat, makin tinggi frekuensi, makin sempit cakupan layanannya. Pada spektrum frekuensi rendah (low frequency) di rentang 450 MHz, 700 MHz, 850 MHz, 900 MHz, 1800 MHz, hingga 2100 MHz, cakupan layanan bisa mencapai radius lima kilometer. Sementara itu, spektrum menengah dari 2300 MHz hingga 35 GHz cakupannya hanya sekitar radius 200–300 meter.
Pada satu luasan dengan radius satu kilometer, misalnya, untuk menjangkau pelanggan dengan frekuensi rendah hanya dibutuhkan satu unit BTS (Base Transceiver Station—perangkat untuk mengirim dan menerima sinyal). Namun, spektrum menengah membutuhkan BTS sebanyak 25–40 unit dengan kemampuan yang sama dalam melayani pelanggan, masing-masing BTS sekitar 24 pelanggan.
Itulah mengapa di tempat padat digunakan spektrum frekuensi menengah agar dapat menjangkau jauh lebih banyak pelanggan. Sementara itu, spektrum rendah 700 MHz umumnya digunakan di kawasan yang luas, mampu menembus gedung-gedung, serta cocok untuk lahan pertanian, perkebunan, perikanan, dan kota pintar (smart city) dalam layanan yang disebut IoT (Internet of Things).
Selama ini, hanya Telkomsel dan XL Smart yang memiliki semua spektrum frekuensi rendah dan menengah di spektrum 2300 MHz yang digunakan untuk melayani kawasan padat. Indosat, dengan 93 juta pelanggan, hanya memiliki berbagai spektrum rendah.
Telkomsel Terbesar
Baca Juga : Mulud Adat Bayan 2026, Tradisi Unik Lombok yang Masuk Kalender Pariwisata Nasional
Telkomsel menggunakan seluruh lebar frekuensi, termasuk 50 MHz di rentang 2300 MHz, untuk melayani seluruh kawasan bagi 153,5 juta pelanggannya. Saat ini Telkomsel, termasuk 100 MHz hasil lelang terakhir, merupakan pemilik frekuensi terlebar, yakni 265 MHz, dibandingkan dengan Indosat yang totalnya hanya 215 MHz dan XL Smart 217 MHz, setelah 15 MHz di spektrum 900 MHz akan diambil pemerintah pada akhir tahun sebagai dampak merger XL Axiata dan Smartfren tahun lalu.
Dengan pelanggan 69 juta, XL Smart sejak Desember 2025 menggelar seluruh 40 MHz-nya di rentang 2300 MHz secara khusus (dedicated) untuk layanan XL Ultra 5G+. Mereka menggunakan cara blanket—meliputi seluruh kawasan/kota—yang kini berjumlah 60 kota dan segera menjadi 88 kota.
Pelanggan yang memiliki ponsel 5G akan langsung mendapatkan sinyal 5G begitu berada di daerah blanket tanpa harus men-switch ponselnya. Kapasitas yang diterima pun sangat tinggi, hingga 500 Mbps.
Hasilnya, pada semester pertama 2026, XL Smart meraih predikat empat “Best” dari Ookla Speedtest Awards H1 2026, yaitu Best Mobile Network (jaringan telepon bergerak terbaik) in Indonesia 2026, Best 5G Network (jaringan 5G terbaik) in Indonesia 2026, Fastest 5G (kecepatan 5G tertinggi) in Indonesia 2026, dan Best 5G Video Experience (pengalaman video 5G terbaik) in Indonesia 2026.
Layanan Ultra 5G+ dikatakan disambut masyarakat. Meskipun jumlah pelanggan menurun dari 72 juta pada 2025 menjadi 69 juta, selain akibat pembersihan nomor tidak aktif, ARPU (Average Revenue per User—pendapatan rata-rata dari setiap pelanggan) naik menjadi yang tertinggi di antara operator, yakni Rp47.300.
Indosat, dengan jumlah pelanggan yang turun dari 95 juta menjadi 93 juta, memiliki ARPU Rp46.000. Sementara itu, Telkomsel yang jumlah pelanggannya turun dari 158,4 juta pada akhir 2025 menjadi 156,1 juta pada Juni 2026, memiliki ARPU sebesar Rp45.600.
Ada istilah Jawa, “Jer basuki mawa bea“—untuk mendapatkan kesejahteraan diperlukan pengorbanan atau biaya—yang perlu dipahami pelanggan. Sebab, layanan 5G tidak sama dengan layanan 4G LTE, setidaknya karena tarif 5G jauh lebih mahal, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan 4G.
Baca Juga : Vivo S2 Resmi Meluncur, Punya Desain Mirip iPhone Air dan Baterai 7.050 mAh
Hal ini karena biaya modal (capital expenditure) yang ditanggung operator jauh lebih tinggi, antara lain akibat biaya pembangunan BTS yang jumlahnya 25–40 kali lebih banyak dibandingkan BTS untuk 4G LTE.
Modal 5G Besar
Walaupun pembangunan BTS pada spektrum frekuensi menengah tidak membutuhkan menara setinggi minimal 32 meter, melainkan pole atau tiang setinggi sekitar 7–10 meter, operator tetap harus menghubungkan antar-BTS dengan serat optik (fiber optic/FO).
Membangun dan mengelola jaringan FO inilah yang memakan biaya besar karena jaringannya harus ditanam di bawah tanah, lalu dimunculkan setiap radius 200 meter. Kondisinya berbeda dengan BTS spektrum rendah yang ditempatkan di atas menara.
Kebutuhan FO di kalangan operator seluler semakin lama semakin besar karena cakupan layanan akan terus meluas. Kondisi ini mungkin membuka opsi sewa-menyewa FO antaroperator, terutama karena kebutuhan FO juga muncul akibat perluasan jangkauan dan pembangunan BTS baru.
Dalam proses merger, puluhan ribu BTS yang berdekatan atau menempel juga harus dipindahkan ke tempat lain. Efeknya positif karena secara otomatis memperluas jangkauan layanan operator.
Catatan menyebutkan, Telkomsel kini memiliki 175.000 kilometer FO dan lebih dari 300.000 BTS, termasuk 5.400 BTS 5G. Indosat memiliki sekitar 88.000 kilometer FO, termasuk 1.300 kilometer kabel laut, dan 224.000 BTS, termasuk 10.000 BTS 5G. Sementara itu, XL Smart memiliki 253.000 BTS, termasuk 12.623 BTS Ultra 5G+ yang hampir semuanya sudah terhubung FO.






