Purwokertohits.com ,Jakarta – Pengadilan tertinggi Suriah akhirnya menjatuhkan ketukan palu berat terhadap mantan penguasa Damaskus. Mantan Presiden Suriah Bashar Al-Assad beserta adik kandungnya, Maher Al-Assad, resmi dijatuhi hukuman mati secara in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa di ruang sidang.
Laporan yang dirilis kantor berita resmi SANA pada Selasa (11/8) menyebutkan, Mahkamah Agung Suriah memutus bersalah Assad atas serangkaian jeratan pasal kejahatan berat yang dilakukan selama masa kekuasaannya.
Langkah hukum ini menjadi babak baru pencarian keadilan bagi rakyat Suriah pasca-runtuhnya rezim yang telah bertakhta puluhan tahun tersebut.
Rentetan Kejahatan Berat dan Pembunuhan Anak
Dalam amar putusannya, majelis hakim Mahkamah Agung Suriah menyatakan Bashar Al-Assad terbukti secara sah dan meyakinkan terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap warga sipil, termasuk anak-anak.
Baca Juga : 7 Negara dengan Gunung Berapi Terbanyak di Dunia, Indonesia Masuk 4 Besar
Selain pembunuhan massal, Assad juga didakwa atas praktik penyiksaan sistematis, penculikan, serta kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pengadilan tidak hanya menjatuhkan vonis maksimal kepada Assad bersaudara. Total ada delapan tokoh kunci rezim lama yang divonis mati secara in absentia.
Namun, berbeda dari Assad yang melarikan diri, mantan Kepala Keamanan Politik Provinsi Daraa, Atef Najib, tampak duduk di kursi pesakitan dan mendengarkan langsung vonis mati yang dibacakan hakim di ruang sidang.
Sosok Tangan Kanan dan Komandan Pasukan Elite
Adik kandung Assad, Maher Al-Assad, turut menjadi sasaran utama vonis mati ini. Semasa rezim kakaknya berkuasa, Maher dikenal sebagai sosok kunci yang memegang kendali atas Divisi Empat Angkatan Bersenjata Arab Suriah.
Pasukan elite tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai operasi militer brutal dalam meredam perlawanan kelompok oposisi di berbagai wilayah Suriah.
Sementara itu, Atef Najib yang hadir di persidangan merupakan figur sentral di Daraa –wilayah yang secara historis menjadi titik awal meletusnya gelombang demonstrasi dan perlawanan rakyat terhadap rezim Assad pada 2011 silam.
Kilas Balik Runtuhnya Keangkuhan Rezim
Vonis mati ini menjadi penutup dari perjalanan panjang drama politik dan konflik berdarah di Suriah. Kehancuran rezim Assad terakselerasi dengan cepat pada akhir tahun lalu.
Pada November 2024, gabungan kelompok oposisi bersenjata melancarkan operasi serangan besar-besaran yang melumpuhkan lini pertahanan pasukan pemerintah. Hanya dalam hitungan minggu, pasukan perlawanan berhasil menembus barikade dan menguasai ibu kota Damaskus pada 8 Desember.
Baca Juga : Utang Kereta Whoosh Warisan Jokowi Ditanggung Kemenkeu: Cukup untuk Kuliah Gratis di PTN
Terdesak dan kehilangan kendali atas militer maupun pemerintahan, Bashar Al-Assad memilih mengundurkan diri dari kursi kepresidenan secara mendadak, sebelum akhirnya kabur meninggalkan Suriah untuk menyelamatkan diri.





