Purwokertohits.com , Jakarta – Dalam kehidupan sehari-hari, ukuran kedekatan seseorang kepada Allah tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga hatinya.
Seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i, Imam Abu ‘Utsman Isma’il bin ‘Abd al-Rahman al-Sabuni al-Shafi’i memberikan nasihat singkat namun mendalam tentang hal tersebut:
قَالَ أَبُو عُثْمَانَ: الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ يُوصِلُكَ إِلَى اللَّهِ، وَالْكِبْرُ وَالْعُجْبُ فِي نَفْسِكَ يَقْطَعُكَ عَنِ اللَّهِ، وَاحْتِقَارُ النَّاسِ فِي نَفْسِكَ مَرَضٌ عَظِيمٌ لَا يُدَاوَى
Artinya: “Abu ‘Utsman berkata: Takut kepada Allah akan menyampaikanmu kepada Allah. Kesombongan dan bangga diri dalam jiwamu akan memutuskanmu dari Allah. Memandang rendah manusia di dalam hatimu adalah penyakit berat yang tidak ada obatnya.”
Pesan ini menempatkan rasa takut kepada Allah (khauf) sebagai kekuatan yang mendorong seseorang untuk terus memperbaiki diri.
Takut bukan berarti menjauh, melainkan kesadaran bahwa setiap tindakan dan sikap akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, rasa takut kepada Allah semestinya melahirkan kehati-hatian dalam ucapan, perilaku, serta hubungan dengan sesama.
Waspadai bangga diri
Abu ‘Utsman juga mengingatkan bahaya kesombongan dan bangga terhadap diri sendiri.
Seseorang dapat merasa lebih baik karena ilmu, ibadah, jabatan, kekayaan, keturunan, popularitas, atau pencapaian yang dimilikinya.
Ketika kelebihan tersebut berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, ia justru berisiko menjauh dari Allah.
Bahaya terbesar dari penyakit ini adalah sifatnya yang sering tersembunyi. Kesombongan tidak selalu tampak dalam ucapan atau tindakan.
Ia bisa tumbuh diam-diam di dalam hati ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih saleh, lebih pintar, lebih berhasil, atau lebih layak dihormati dibandingkan orang lain.
Nasihat Abu ‘Utsman menjadi relevan di tengah kehidupan modern ketika pencapaian mudah dipamerkan dan pengakuan publik dapat diperoleh melalui media sosial.
Jangan merendahkan
Peringatan paling keras dalam nasihat tersebut diarahkan kepada kebiasaan memandang rendah manusia.
Abu ‘Utsman menyebutnya sebagai “penyakit berat yang tidak ada obatnya.” Artinya, persoalan hati ini tidak boleh dianggap sebagai kesalahan kecil.
Merendahkan orang lain dapat muncul dalam bentuk mengejek, meremehkan pekerjaan, status sosial, pendidikan, kondisi ekonomi, penampilan, bahkan masa lalu seseorang.
Padahal, manusia tidak mengetahui kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Orang yang terlihat sederhana bisa memiliki hati yang jauh lebih baik daripada mereka yang tampak memiliki banyak kelebihan.
Dalam Alquran, kesombongan atau takabbur dan istikbar bukan sekadar persoalan sikap, melainkan penyakit hati yang dapat merusak hubungan manusia dengan Allah SWT maupun dengan sesama.
Kesombongan muncul ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi, lebih hebat, lebih berharga, atau lebih berhak daripada orang lain, hingga membuatnya sulit menerima kebenaran.
Allah SWT secara tegas memperingatkan manusia agar tidak berjalan dalam kehidupan dengan sikap angkuh. Salah satunya ditegaskan dalam QS. Luqman ayat 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Ayat tersebut menunjukkan kesombongan tidak hanya tercermin dari ucapan, tetapi juga dapat terlihat dari perilaku.
Memalingkan wajah dari orang lain karena merasa lebih tinggi, merendahkan sesama, atau menunjukkan keangkuhan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sikap yang tidak disukai Allah SWT.
Bahaya kesombongan juga tergambar dalam sejumlah kisah yang diabadikan Alquran. Iblis, misalnya, menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam AS bukan karena tidak mengetahui perintah tersebut, melainkan karena merasa dirinya lebih baik. Ia berkata bahwa dirinya diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah.
Sikap serupa terlihat pada Fir’aun. Kekuasaan yang dimilikinya justru melahirkan kesewenang-wenangan hingga membuatnya mengklaim kedudukan yang sangat tinggi di hadapan manusia.
Qarun pun menjadi contoh lain bagaimana kekayaan dapat menumbuhkan kesombongan ketika seseorang merasa keberhasilannya semata-mata merupakan hasil kemampuan dirinya sendiri.
Dari kisah-kisah tersebut, kesombongan menjadi berbahaya ketika kelebihan yang dimiliki manusia, baik kekuasaan, kekayaan, ilmu, jabatan maupun kemampuan, membuatnya lupa bahwa semuanya merupakan pemberian Allah SWT.
Karena itu, Islam tidak melarang seseorang memiliki harta, kedudukan, ilmu atau prestasi. Yang dilarang adalah menjadikan kelebihan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain, menolak kebenaran, dan merasa dirinya lebih tinggi di hadapan Allah maupun manusia.
Kesombongan pada akhirnya bukan membuat seseorang menjadi mulia, tetapi justru dapat menjadi jalan menuju kehancuran.
Sebab, semakin tinggi seseorang meninggikan dirinya sendiri, semakin besar pula risiko ia kehilangan kesadaran bahwa seluruh kelebihan yang dimilikinya hanyalah amanah dari Allah SWT.
Pesan Abu ‘Utsman pada akhirnya mengajak seseorang untuk mengalihkan perhatian dari menilai orang lain kepada memperbaiki dirinya sendiri.
Takut kepada Allah mendekatkan, kesombongan menjauhkan, sementara merendahkan manusia merusak hati.
Tiga pesan ini menjadi pengingat penting bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang memperbanyak amal, tetapi juga membersihkan hati dari penyakit yang dapat menghapus nilai kebaikan.




