Purwokertohitz.com, Jakarta – Sejumlah wilayah di Indonesia mulai merasakan suhu udara yang semakin menyengat seiring meluasnya musim kemarau. Mengutip Kompas.com, Senin (29/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 263 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 37,6 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG mencatat, suhu udara maksimum pada periode 22–24 Juni 2026 berkisar antara 35 hingga 35,5 derajat Celsius di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Sementara itu, suhu tertinggi di Indonesia mencapai 38,6 derajat Celsius di Papua Barat. Suhu tersebut tercatat berdasarkan hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Rendani di Manokwari, Papua Barat, pada 21 Juni 2026.
Baca juga : Brasil Comeback Dramatis! Taklukkan Jepang 2-1 dan Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Berdasarkan hasil analisis Dasarian III (10 hari ketiga) Juni 2026, musim kemarau telah meluas ke sejumlah daerah, antara lain sebagian Sumatra Utara, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Maluku.
BMKG menjelaskan, meluasnya musim kemarau berkaitan dengan dinamika atmosfer global. Salah satu indikatornya adalah anomali Suhu Permukaan Laut (Sea Surface Temperature/SST) di wilayah Nino 3.4 yang pada Dasarian II Juni 2026 tercatat sebesar +1,61.
“Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global. Pada Dasarian II Juni 2026, anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61,” tulis BMKG melalui laman resminya, dikutip Senin (29/6).
Nilai anomali tersebut mengindikasikan kondisi El Nino yang berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah Indonesia
Curah Hujan Diprediksi Semakin Rendah
BMKG memprakirakan, dalam beberapa hari ke depan sebagian wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian. Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau diperkirakan terus meluas.
Wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah antara lain sebagian Sumatra, Banten, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.
El Nino Berpotensi Bertahan hingga Awal 2027
Fenomena El Nino tahun ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2027. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut tersebut berpotensi membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Berdasarkan analisis BMKG pada awal Juni 2026, peluang El Nino bertahan dengan intensitas moderat mencapai 98 persen, sedangkan peluang berkategori kuat sebesar 62 persen.
“Meskipun begitu, fenomena ini hanya akan memberi dampak langsung bagi wilayah Indonesia sepanjang musim kemarau hingga Oktober 2026,” jelas BMKG melalui akun Instagram resminya.
Baca juga : Kroasia Tundukkan Ghana 2-1, Vatreni Amankan Tiket ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Tak hanya berdampak di Indonesia, El Nino juga diprediksi memengaruhi pola cuaca global. Biro Meteorologi Australia memperingatkan bahwa fenomena El Nino di Samudra Pasifik tropis berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade terakhir.
Akibatnya, sejumlah wilayah di Benua Amerika berpotensi mengalami curah hujan tinggi yang dapat memicu banjir. Sebaliknya, sebagian besar kawasan Asia diperkirakan menghadapi suhu yang lebih panas dan kekeringan berkepanjangan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu sektor pertanian serta mengancam ketahanan pangan di berbagai negara. Para ilmuwan juga menilai perubahan iklim global turut memperkuat dampak El Nino tahun ini.






