Purwokertohits.com , Jakarta – Palu diketuk, Al-Fatihah dibaca, dan Sidang Pleno V Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) ditutup. Dengan itu sembilan nama resmi memegang tugas paling menentukan setelah muktamar usai: menyusun siapa saja yang akan mengisi kepengurusan PBNU lima tahun ke depan.
Tim formatur dibentuk tak lama setelah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU terpilih di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8).
Pimpinan Sidang Pleno V Prof H Ganefri menjelaskan komposisinya mengacu pada Pasal 11 Bab V tata tertib pemilihan Ketua Umum PBNU. Aturan itu membagi keterwakilan ke dalam tiga wilayah — Timur, Tengah, dan Barat — ditambah satu unsur tuan rumah muktamar.
Dua kursi lainnya melekat pada jabatan.
“Rais Aam terpilih otomatis sebagai ketua dan Ketua Umum PBNU terpilih sebagai sekretaris,” kata Ganefri.
Artinya KH Miftachul Akhyar memimpin tim formatur, sementara Gus Kikin menjadi sekretaris. Posisi ini memperpanjang penguatan peran Rais Aam di bawah aturan hasil Muktamar ke-35, yang juga mensyaratkan persetujuan tertulis Rais Aam bagi setiap calon ketua umum.
Baca Juga : Sudaryono: Pekan Depan Orang Tua Bisa Pantau Menu Makan Bergizi Gratis Secara Online
Daftar lengkap tim formatur PBNU 2026-2031
- KH Miftachul Akhyar — Ketua Formatur, Rais Aam terpilih
- KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) — Sekretaris Formatur, Ketua Umum terpilih
- H Abdul Qahar Yelipele — Wilayah Timur, Papua Pegunungan
- H Amar Manaf — Wilayah Timur, Maluku
- Prof Mansur Ma’shum — Wilayah Tengah, Nusa Tenggara Barat
- KH Muhammad Wildan Salman — Wilayah Tengah, Kalimantan Selatan
- KH Abdul Ghaffar Rozin — Wilayah Barat, Jawa Tengah
- Prof Ganefri — Wilayah Barat, Sumatra
- KH Abdul Matin Djawahir — Tuan rumah, Jawa Timur
Dua nama dengan cerita di belakangnya
Kehadiran KH Abdul Ghaffar Rozin di kursi Wilayah Barat menarik dicatat. Beberapa jam sebelumnya, Gus Rozin masuk daftar lima calon Ketua Umum PBNU dengan 155 suara, satu-satunya nama yang bersaing dengan Gus Kikin dan kini duduk di tim yang menyusun kepengurusannya.
Nama lain yang punya jejak langsung adalah KH Abdul Matin Djawahir dari Tuban, mewakili unsur tuan rumah. Ia adalah Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur yang pada 21 Juli 2026 mengumumkan penugasan resmi Gus Kikin sebagai kandidat Ketua Umum PBNU dari wilayahnya.
Baca Juga : Chamber of Scholars UBSI Purwokerto Jadi Chapter Baru bagi Maba Penerima Beasiswa
Terkait empat kandidat calon ketua umum lain yang tak terpilih, seperti KH Zulfa Mustofa (Kiai Zulfa), KH Abdussalam Sochib (Gus Salam), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan KH Abdul Ghofar Rozin, maupun nama-nama lain, Gus Kikin memastikan seluruh potensi yang ada di tubuh NU akan diakomodasi dan dioptimalkan.
“Kita akan coba kita wadahi. Karena itu memang potensi-potensi yang ada itu memang harus kita optimalkan,” katanya.
Tenggat satu bulan
Tugas formatur tidak berhenti pada seremoni. Ganefri menegaskan tim ini mendapat mandat langsung menyusun struktur kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031, dengan batas waktu maksimal satu bulan sejak Muktamar ke-35 berlangsung.
Dalam rentang itu, sembilan orang tersebut menentukan siapa mengisi jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, dari wakil rais aam hingga sekretaris jenderal. Struktur yang mereka susun akan menjadi perangkat yang menjalankan seluruh keputusan dan mandat muktamar.
Susunan formatur disepakati forum tanpa perdebatan. Ganefri menutup sidang setelah menanyakan persetujuan peserta dan mengajak membaca Al-Fatihah.


