Pendidikan

60 Persen Warga Disebut Buta Huruf Alquran, 10 Ribu Siap Guru Dikerahkan

×

60 Persen Warga Disebut Buta Huruf Alquran, 10 Ribu Siap Guru Dikerahkan

Sebarkan artikel ini

Purwokertohits.com , Jakarta – Persoalan buta huruf Alquran di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar mengukuhkan 10 ribu guru Alquran dari kader Wahdah Islamiyah untuk bergerak langsung ke masyarakat.

Langkah itu dinilai penting karena pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri menghadapi persoalan literasi Alquran.

Pengukuhan tersebut dilakukan dalam pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Nasaruddin menyebut jumlah masyarakat yang masih buta huruf Alquran mencapai sekitar 60 persen.

“Saya kukuhkan sekali lagi 10.000 guru ngaji, selamat jalan, selamat berjuang, dan sekaligus juga membuka Muktamar yang mengusung tema memantapkan persatuan dan kolaborasi menuju Indonesia berkah,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, 10 ribu guru tersebut akan menjadi ujung tombak pemberantasan buta huruf Alquran di tengah masyarakat.

Ia bahkan memperkirakan persoalan tersebut dapat ditekan signifikan apabila setiap guru membimbing sedikitnya 10 orang.

“Saya memberikan apresiasi yang luar biasa baik kepada para guru 10.000 ini maupun juga kepada Wahdah Islamiyah. Insya Allah kita doakan semoga kalian berhasil, kalau 10.000 orang ini membebaskan 10 orang, maka Insya Allah dalam tempo tiga tahun Indonesia akan bebas dari buta huruf Alquran,” ujarnya.

Nasaruddin menegaskan, Kementerian Agama tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut sendirian.

Kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan Islam dinilai menjadi kunci agar program literasi Alquran menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Kementerian Agama tidak bisa menyelesaikan masalah buta huruf Alquran sendiri. Di sinilah peran Ormas Islam, termasuk paling konkret yaitu Wahdah Islamiyah yang menyumbangkan 10.000 guru Alquran untuk memberantas buta huruf Alquran di Indonesia,” katanya.

Bukan Sekadar Mengajar

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga meminta para guru Alquran tidak berhenti pada kemampuan mengajarkan bacaan. Mereka diharapkan mampu membangun kedekatan dengan murid sehingga pendidikan Alquran menyentuh aspek batin dan pembentukan karakter.

“Saudara sekalian para pejuang Islam, jadilah betul-betul sebagai guru dalam kurung Mursyid. Semoga tentu kita tidak hanya mengajarkan membaca Alquran tetapi kita juga berharap semoga para guru ini berhasil menembus batin-batin para muridnya,” kata dia.

Langkah Wahdah Islamiyah tersebut, menurut Nasaruddin, sejalan dengan program Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dalam mengatasi buta huruf Alquran.

Dimensi Kebudayaan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai pengukuhan 10 ribu guru Alquran juga memiliki dimensi kebudayaan.

Ia mengajak keluarga besar Wahdah Islamiyah ikut memajukan kebudayaan nasional, termasuk ekspresi budaya Islam di berbagai daerah.

“Jadi tentu saja kita berharap termasuk keluarga besar Wahdah Islamiyah, ikut memajukan kebudayaan nasional kita. Dalam hal ini juga tentu saja ekspresi kebudayaan Islam yang ada di berbagai daerah, baik yang sifatnya bendawi maupun non-bendawi, tangible atau intangible heritage,” ujar Fadli Zon.

Ia menambahkan, pemerintah membutuhkan mitra untuk menghadapi arus budaya yang dinilai tidak sesuai dengan jati diri dan identitas bangsa.

“Kementerian Kebudayaan juga terus mengembangkan budaya Islam, kesenian Islam. Karena itulah kami juga perlu mitra, perlu dukungan, termasuk untuk menghadapi berbagai arus budaya yang tidak sesuai dengan jati diri dan identitas kita,” ujarnya pula.

Fadli menyebut tilawatil Qur’an, halal bihalal, iftar, kaligrafi dan hadroh sebagai bagian dari ekspresi budaya Islam Indonesia. Ia juga menyinggung pengakuan UNESCO terhadap halal bihalal dan iftar sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage.

Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah turut dihadiri Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Ketua MUI Pusat KH Anwar Iskandar, sejumlah duta besar negara sahabat, serta tokoh lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *